desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Banjar Pakraman Kota Denpasar

Banjar Sumuh Kec. Denpasar Barat

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jun 25 2018 :: 01:57:51 AM

Banjar Sumuh


SEJARAH NAMA SUMUH

Berbicara masalah sejarah adalah suatu pikiran yang mengacu pada masa lampau oleh karena pemaparan dalam hal sejarah merupakan penyampaian peran tentang apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Pemberian nama Desa atau suatu wilayah khususnya di Bali berkaitan erat dengan sejarah raja-raja dijaman dahulu seperti yang sering dijumpai dalam Babad, lontar ataupun Prasasti

Dalam perjalanan sejarah wilayah Sumuh merupakan desa tua yang sudah ada sejak tahun caka 1420 atau 1498 Masehi yang di temukan dalam lontar "Widhi Sastra Brahmana Keling". maka dengan sumber dari lontar tersebut kami dapat menulis sejarah singkat desa Sumuh dengan maksud agar dikenali oleh generasi penerus untuk selanjutnya dikembangkan sesuai dengan data fakta yang ada

Dikisahkan ada seseorang Brahmana dari tanah Jawa yang tinggal di wilayah Kerajaan Kalingga selalu menyembah Tuhan dan sangat berpengetahuan meninggalkan wilayah Kalingga menuju wilayah penanggungan (wilayah Sidoarja;Jawa Timur sekarang) lalu melanjutkan perjalanan menuju gunung bromo ( kabupaten pasuruan jawa timur) pada caka 1401 atau 1479 AD. Beliau menganut paham agama Budha dan lebih di sebut dengan sebutan "Brahmana Keling". Dan pada waktu yang tepat ada suara gaib yang diterimanya dari sanghyang Utasana (Bhatara Brahma). setelah itu beliau melanjutkan perjalanan menuju pulau Bali guna membantu sanak saudara beliau yaitu dalem Waturenggong lantaran pulau Bali sedang terserang wabah penyakit

Selanjutnya dikisahkan Brahmana Keling telah tiba di pulau Bali tepatnya di Besakih, beliau bergegas menuju gelgel namun sial tidak bertemu dengan dalem waturenggong di kerajaan lantaran beliau dalem waturenggong sedang mempersiapkan karya nangluk merana di pura Besakih guna menangkis mara bahaya yang melanda pulau Bali, namun beliau Brahmana Keling bertemu dengan kipatih dalem waturenggong yang bernama patih moda selanjutnya menyebabkan terjadi kesalah  pahaman dalem waturenggong yang menerima laporan sepihak dari patih moda yang menyebabkan Brahmana Keling mengeluarkan kutukan yang menyebabkan kaya nangluk merana di Besakih tidak bisa dilaksanakan oleh dalem waturenggong, akan tetapisetelah permohonan maaf dan telah mengakui kekeliruan yang di lakukan oleh dalem waturenggong akhirnya Brahmana Keling merestui permohonan dalem waturenggong dengan memuja tirta kehidupan dengan menancapkan tongkat sakti  beliau ke bumi serta merta memunculkan air dari belahan watu yang selanjutnya di percikan keseluruh sarana upacara banten yang menyebabkan upacara berhasil. Yang kemudian sejak itu sampai sekarang bila menggelar upacara besar di Bali wajib hukumannya nunas tirtha agung , jika tidak maka karya yang di haturkan tidak akan berhasil. Tirtha agung lalu dinamai “Tirtha Sidhakarya” dan pada tempat beliau membuat tirtha itu dinamai Gunung sari

Setelah demikian lalu beliau Brahmana keling menuju kearah barat daya, tak terkisahkan dalam perjalanan beliau akhirnya beliau tiba pada suatu wilayah, disana beliau membuat sumur pada tahun caka 1420 atau 1498 AD, itulah sebabnya wilayah itu sampai sekarang dinamai “Sumuh”. Karena wilayah Sumuh sedang diserang oleh wabah penyakit madewa/cacar banyak masyarakat yang meninggal, lalu ada sabdha beliau hyang dewi buti, dititihkan untuk membangun upacara penetral butha, dengan kemampuan dari Brahmana Keling (dipuput), guna mengembalikan keadaan masyarakat Sumuh seperti sedia kala, itu pula sebabnya diadakan sabungan ayam, karena demikian maka tempat pemujaan itu yang di puja adalah Bhagawan Bregu dan selanjutnya beliau Brahmana Keling di wilayah Sumuh membangun tempat pemujaan sebagai pelinggih Bhagawan bregu, karena pada wilayah masyarakat memohon pengobatan kehadapan beliau, itu lah sebabnya kahyangan yang di bangun itu dinamai pura Botoh yaitu di wilayah Sumuh. Namun dilihat pada jaman sekarang sebutan pura Botoh di wilayah Sumuh tidak di temukan akan tetapi pelinggih botoh memang di temukan dan terbukti ada yaitu terletak dipura luhurin cemara yang sering disebut pura pesaji dan memang berada di wilayah sumuh (termasuk wilayah Br.Sumuh sekarang) dan dapat pembenaran dari jero mangku muka mangkuning mangku gede ring pura luhurin cemara

ASAL-USUL BERDIRINYA BANJAR SUMUH

Sebelum Indonesia merdeka telah ada 2 kelompok banjar yang berdiri di lingkungan Banjar Sumuh sekarang yaitu:

  1. Banjar Sumuh yang disebut dengan banjar jaba, beranggotakan 24 orang menempati lokasi di sisi kaler sanggah pererenan
  2. Banjar Agung Pesaji yang disebut Banjar agung, beranggotakan 12 orang menempati lokasi pada tanah/ pekarengan druwen Alm. A.A Ketut Geledeng saking jero pesagi

Setelah Indonesia merdeka dua banjar tersebut diatas bersatu dan membentuk banjar yang bernama banjar Sumuh dengan jumlah anggota 36 orang, dengan kelian dinas pertama adalah I made rerig (pan simprug/ pan joda)

 

•   Lokasi   : Jl. Pulau Misol No.54, Dauh Puri Kauh, Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80112, DESA DAUH PURI KAUH, Denpasar Barat

•   Kelian   : Drs A A Made Sutana 0

•   Jenis Banjar   :

•   Awig-awig Banjar   :

•   Pelinggih   : • Pelinggih Ratu Begawan Penyarikan  

Kependudukan


•   Jumlah KK   : 126

•   Jumlah Krama   : 390

•   Krama Pria   : 0

•   Krama Wanita   : 0

Batas-batas Banjar


•   Batas Utara   : Br beraban, Br sampingan bumi, (sungai badung, Gg

•   Batas Timur   : Br bumi santhi (jln teuku umar)

•   Batas Selatan   : Br werdhi, Br abian tegal (jln teuku umar)

•   Batas Barat   : Br buagan, Br batanyuh, Br tenten (sungai badung d

Perangkat Banjar


No Nama J/K Jabatan Alamat No. Telp
1 I made rerig (pan simprug/pas joda) Laki-laki kelihan dinas 0 0
2 i wayan mirna Laki-laki kelihan suka-duka - 0
3 pan geria Laki-laki kelihan suka-duka - 0
4 pan djenek Laki-laki kelihan suka-duka - 0
5 pan kamar (made malen) Laki-laki kelihan suka-duka - 0
6 A.A kompyang kondra Laki-laki kelihan suka-duka - 0
7 i wayan mirna Laki-laki kelihan suka-duka - 0
8 A.A ketut mendra Laki-laki kelihan suka-duka - 0
9 a.a putu kania Perempuan kelihan suka-duka - 0
10 pan tamped Laki-laki kelihan suka-duka - 0
11 i wayan kerug (pan madri) Laki-laki kelihan suka-duka - 0
12 i wayan geria Laki-laki ketua sekehe teruna banjar sumuh -p 0
13 A.A made karya Laki-laki pengurus lain dari sekekeh teruna banjar sumuh - 0
14 i wayan runia Laki-laki pengurus lainnya - 0
15 A.A MADE KARYA Laki-laki PENGAJAR UNTUK PEMBERANTAS BUTA HURUP - 0
16 i wayan runia Laki-laki PENGAJAR UNTUK PEMBERANTAS BUTA HURUP - 0
17 SI PUTU KOMPYANG (BERABAN) Laki-laki PENGAJAR UNTUK PEMBERANTAS BUTA HURUP - 0
No Nama J/K Jabatan Alamat No. Telp

Sumber Informasi : -

Banjar Lainnya di kec. Denpasar Barat