desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Kesenian di Kota Denpasar

Sekaa Gandrung Br. Ketapian Kelod Pengusung Taksu Hyang Dedari • Desa Sumerta

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Oct 09 2019 :: 09:36:41 AM

Viewed by : 520 people

Deskripsi


-

Sejarah


Tari Gandrung di Bali sangat erat dengan perkembangan budaya masyarakat Desa Ketapian, Denpasar. Dari sejumlah sekaa kesenian di Bali hanya warga Ketapian mampu melestarikan gandrung dari kepunahan. Akibatnya, Ketapian identik dengan kejayaan gandrung di Bali. Sebagai pelestari kesenian yang tergolong langka di Bali ini, Sekaa Gandrung Ketapian telah melakukan upaya berliku untuk mempertahankan tarian ini. Sebab, bisa dibayangkan betapa zaman dulu tidak gampang untuk menggali orang yang mau menekuni tari maupun tabuh. Namun sekaa ini terus tabah menghidupkan gandrung sebagai bagian untuk melestarikan budaya agama, adat dan seni.

                Tari Gandrung sudah muncul sejak masa pemerintahan I Dewa Agung Anom yang bergelar I Dewa Agung Mantuk Ring Patemin di Sukawati, abad XVIII atau tahun 1800 masehi. Dikisahkan, kalo itu yang memegang kekuasaan di Blahbatuh adalah Kyai Ngurah Jelantik. Suatu ketika raja minta agar Kyai membangunkan tari gandrung di Blahbatuh sekaligus mendatangkan penguruk (pelatih tari dan tabuh)-nya, Bambang Pulasari.

                Pada era tersebut tarian gandrung dimanfaatkan untuk menghibur raja yang biasanya beristri banyak. Gandrung dipercaya bisa menggugah hati raja agar bisa membagi cinta kasihnya kepada semua istri dan anak-anaknya. Gandrung juga dipertunjukkan untuk tujuan memperoleh kekuatan masgistik dimanfaatkan. Sampailah, tahun 1884 tari gandrung terdapat di Blahbatuh yang diciptakan I Gusti Putu Kabor dan I Wayan Batubulan. Dari dua seniman ini berkembang tarian Bali yang bersumber dari tari gambuh termasuk gandrung oleh seniman I Sabda dan I Goya dari Guanyar dan I Wayan Batubulan sendiri.

                Suatu ketika Raja Gianyar membuat kesalahan sehingga Raja Dalem I Dewa Agung Klungkung marah dan menahannya di Klungkung. Sedangkan I Sabda , I Goya dan I Wayan Batubulan selaku pengiringnya yang pregina dan ahli tabuh gandrung dibuang ke Nusa Penida. Selain ke Nusa Penida ada sejumlah ahli seni lain dibuang ke Nusa Lembongan, diantaranya, Made Dewaja, Dewa Ketut Balancing dan Dalang Tutrukan.

                Sedangkan yang lari ke Karangasem adalah I Gusti Putu Kabor,, I Wayan Kebut dan I Wayan Jebog. Mendengar pembuangan itu, Raja Badung minta kepada rakyatnya agar seniman diculik dan dibawa ke Badung untuk mengajar tari gandrung. Sebab sekitar tahun 1850 itu, di Badung belum ada ahli tari gambuh. Dari kemauan raja ini menyebabkan tari gandrung berkembang ke berbagai tempat di antaranya di Ketapian.

                I Wayan Cekug, mantan Klian Sekaa Gandrung Ketapian mengatakan sekaanya telah berdiri sekitar tahun 1896 masehi. Dari terbentuknya sekaa ini muncul penari gandrung tergenerasi angkatan I tahun 1896 antara lain Pekak Kerta dan Pan Regeg. Angkatan II tahun 1925 I Regeg, I Urip dan Pan Kerta, angkatan III tahun 1935 I Made Kerta, I Wayan Regug dan I Nyoman Sarin. Angkatan IV tahun 1946, penari Ni Liah, Ni Rasmi, Ni Rasmon dan Ni Seken dan angkatan V tahun 1972 Ni Dani, Ni Wayan Sudani, Ni Made Warti dan Ni Nyoman Narti. Berkat angkatan seniman gandrung ini menjadikan sekaa gandrung Ketapian makin dikenal masyarakat luas khususnya di wilayah Badung. Tak terkecuali segi bentuk dan penyajian tarinya mengalami perubahan dibandingkan sebelumnya. Ketika gandrung mulai muncul, pementasnya lebih ditujukan untuk hiburan dikalangan keraton. Bentuknya hanya berupa tarian tunggal oleh penari laki-laki yang berparas cantik saperti wanita. Keadaan ini menyebabkan tarian gandrung disebut joged muani (laki-laki). Dalam konteksnya sebagai tari pergaulan, penonton tari gandrung tidak ikut ngibing. Namun penari gandrung ini ditemani seorang penari laki-laki yang berfungsi sebagai juru tandak dan banyolan. Dalam pentasnya terselip ucapan tandak antara lain; wawu surup ida hyang rawi, dadi hana katon istri ayu sedang artaki, luwir warnanira kadi mas wus siangling, anglung ira rebah candi. Kurang lebih artinya,” baru terbenam matahari, muncullah seorang dara ayu sedang berhias, kelihatannya rupanya seperti mas yang telah disepuh. Ia bermahkotakan candi rebah”. Biasanya juru tandak berpakaian adat Bali dan duduk di depan gamelan semarpegulingan. Setelah selesai babak pertama pentas yang ditandai pemberhentian gambelan, penari gandrung berdiri di hadapan juru tandak seraya mengeluarkan ucapan; “rerama ingsung durung wanehangrungu swaraning gending curing, tabuhana, linsu wina kinidungan, rerama. Artinya, “paman saya belum puas mendengarkan lagu curing, tabuhkanlah terus sing dan rebab ditembangkan, paman. Ini dijawab,” Ucapan itu dijawab,” nah anakku sekarang akan bapak tabuhkan”. Gambelan ditabuh untuk mengiringi tarian selanjutnya. Gending yang mengiringi bentuk pentas gandrung ini gending gandrangan tanpa tarian pembukaan, penari langsung menari sambil menunggu penonton yang akan ngibing. Bentuk tarian ini di Ketapian berlangsung hingga akatan ke II tahun 1925. Pada angkatan III atas prakarsa seniman I Nyoman Kaler diadakan penambahan bentuk tari dengan memasukkan beberapa unsur legong keraton. Penambahan ini pula mengakibatkan Gandrung Ketapian memiliki keragaman gerak tari. Penambahan ini mengakibatkan perubahan bentuk penyajian. Sebelum menginjak ke tarian pokok dengan gending gandrangan, tarian gandrung didahului dengan tarian pembukaan yang diambil dari beberapa unsur tari legong keraton antara lain lasem dengan petikan cerita Panji Malat Rasmin. Selain itu, Kuputarum, yang melambangkan kupu-kupu yang sedang mengisap sari bunga, kuntir yang dipetik dari epos Mahabrata dengan episode peperangan Budisrawa dengan Setyaki

                Dalam perkembangannya, proses bentuk dan penyajian pentas mengalami perubahan sehingga terjadi bentuk tari grandung seperti  sekarang. Pengaruh legong kraton tidak hanya pada tambahan gerak tari, juga pada gelungan (hiasan kepala) yang sebelumnya hanya satu buah menjadi tiga buah. Untuk dua pemeran condong menggunakan gelungan seperti legong keraton, sedangkan untuk peran legong dibuatkan gelungan seperti gelungan gandrung. Tiga gelungan ini masih disimpan dan disucikan di Pura Banjar Ketapian Kelod. Sedangkan gelungan aslinya dikeramatkan dan diupacarai setiap piodalan dan hari kajeng kliwon. Selain itu perubahan juga terjadi pada gambelan pengiring yang sebelumnya semarpegulingan diganti dengan rndik (gambelan dari bahan bambu). Perubahan ini terjadi akibat adanya serangan penyakit cacar di wilayah kerajaan Badung. Keadaan menjadi mengerikan. Namun kaitan perubahan gambelkan gandrung dengan serangan cacar ini semata-mata kepercayaan yang berkembang. Buntutnya, raja memerintahkan agar semua peralatan yang terbuat dari perunggu diusingkan dan diganti dengan gambelan dari bahan lain. Sejak itu gambelan gandrung dari semarpegulingan diubah dengan rindik namun tetap berpatokan pada nada semarpegulingan. Sampai sekarang di Ketapian ada tradisi setiap enam bulan sekali pada hari Buda Cemeng Merakih (menurut perhitungan kalender Bali) di pura Peti Tenget, Kerobokan Badung. Fungsinya untuk hiburan (balih-balihan) dan bukan sebagai tari wali (pelaksana upacara) atau tari bebali (pengiring upacara). Pementasan ini didasari dengan keyakinan bahwa sekaa gandrung berdiri karena memperoleh taksu dari “Hyang Dedari” yang berstana di pura tersebut. Karena taksu tersebut terletak pada gelungan menyebabkan gelungan tersebut. Karena taksu tersebut terletak pada gelungan menyebabkan gelungan tersebut disakralkan oleh masyarakat Ketapian.

                Pentas gandring tidak hanya di pura Petitenget juga di Pura Baleagung, Pura Dalem, Pura Dadya dan Pura Banjar setempat. Serta ngelawang (pentas turun ke jalan raya) keliling perkampungan. Selain itu, gandrung juga dimanfaatkan untuk tarian hiburan terutama habis panen di sawah dan pembayaran sesangi (kaul). Namun dua bentuk pentas gandrung ini tidak lagi diberlakukan.

Sumber Informasi : -

Kesenian Lainnya di kec. Denpasar Timur