desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

Anak Agung Made Cakra • Desa Ubung Kaja

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jul 17 2018 :: 09:34:29 AM

Viewed by : 396 people

Anak Agung Made Cakra • Seni Musik


Kehidupan Gung Cakra, begitu ia akrab disapa, memang sangat lekat dengan music pop daerah Bali. Kepiawaiannya bermusik serta melantunkan lagu ciptaannya menjadikan ia seniman music pop Bali terdepan.

                Sebagai seniman music otodidak, Anak Agung Made Cakra telah melakoni jam terbang di bidang music amat melelahkan.sejak usia tujuh tahun ia mulai belajar music secara otodidak. Sebelumnya, ia amat suka mendengarkan alunan music pop yang dimainkan orang-orang Jepang di Bali. Dalam setiap pertunjukan music itu, ia tak sekadar menonton melainkan mencerna hingga grup music itu bubar.

                Tahun 1943, ketika masih duduk di bangku SR (Sekolah Rakyat), Gung Cakra ikut lomba lagu Jepang di Singaraja (ketika itu masih menjadi Ibukota Provinsi Bali). Ternyata Cakra berhasil memikat pemusik Jepang itu. Pemusik itupun sanggup memberikan arahan bermain music yang baik kepada Gung Cakra.

                Maka setamat SR Gung Cakra dipekerjakan oleh Jepang itu di Hinomaru dengan gaji 6 rupiah. Setelah digaji disini ia juga dilatih bermain music, dan pemusik Jepang itu ---namanya dia lupa--- Cakra memang sangat berbakat di bidang music. Tak tanggung-tanggung pemusik Jepang itupun mengajak Cakra pentas bersama menghibur para tamu dan orang-orang sakit. Cakra merasa beruntung bisa belajar music.

                Suatu hari di Pasar Badung, disebuah tong sampah, ia menemukan buku music berbahasa Inggris. Runyamnya, ia mengaku tidak bisa berbahasa Inggris karena memang tidak pernah belajar. Namun, ia yakin, isi buku itu memang tentang pengetahuan praktis bermain music. Isinya antara lain tentang cara menggesek biola, notasi dan lain lain.

                Memasuki zaman kemerdekaan, ia pun tak surut dari dunia music. Sebaliknya, dia justru kian suntuk belajar music. Tahun 1950 ia bahkan mencoba mengumpulkan pecinta music di Denpasar dengan maksud untuk membentuk satu grup orchestra. Tahun 1953 mulailah pentas orchestra Gung Cakra dan kawan-kawan digelar di seputar Denpasar.

                Mulanya ia bergabung dengan grup orkes keroncong Puspa Teruna di pimpin Ida Made Rai. Lalu bergabung dengan orkes keroncong melatih Kusuma pimpinan Merta Suteja. Tak cukup sampai disana, ia kemudian meloncat ke orkes keroncong Merta Kota dan orkes keroncong Cendrawasih pimpinan Ir Soekarno, Putra Sunda, Jawa Barat, yang tinggal di Singaraja. Selain itu, ia juga terlibat kegiatan rutin bermusik di RRI Stasiun Denpasar dan pentas di panggung terbuka, di samping juga tampil khusus di pesta perkawinan hingga di bale banjar-bale banjar.

                Sekitar tahun 1955 Ir Soekarno pulang ke tanah Sunda, dan orkes keroncong Cendrawasih pun bubar. Dasar memang pecandu berat music Gung Cakra pun membentuk grup orkes keroncong Fajar Baru. Disini ia sekaligus sebagai pimpinan grup.

                Tahun 1958, Kodam XVI/Udayana (kini Kodam IX/Udayana) belum juga punya Korsik (Korps Musik). Untuk mengisi kekosongan tersebut pihak Kodam Udayan lantas mendatangkan grup music dari Makasar, Sulawesi Selatan. Sayangnya grup music tersebut tak lengkap. Ada satu posisi yang tak terisi. Maka, Gung Cakra yang memang sudah popular di kalangan pecinta music di Bali saat itupun mengisi kekosongan tersebut. Lantas berdirilah orkes DHK (Dinas Hiburan Kesejahteraan). Di grup ini Cakra mengaku banyak menimba pelajaran dan pengalaman, mulai dari menggesek biola, meniup seruling, hingga memainkan clarinet. Semuanya dikuasai dengan baik.

                Dia sekedar memainkan alat music, benih-benih kreatifitasnya lantas berbiak ke penulisan syair lagu. Jadilah ia seorang pecinta syair lagu sekaligus penggarap komposisi musiknya.

                Yang paling mengesankan Gung Cakra selama berkarier di dunia music adalah dipercayainya dia untuk menghibur tetamu Presideng RI pertama Ir Soekarno saat berada di Istana Tampaksiring. Bahkan, bisa dikatakan Gung Cakra sudah menjadi langganan Bung Karno untuk menghibur tamu-tamunya di Istana Tampaksiring.

                Begitulah ketenaran Gung Cakra di jagat music Bali menjadikan lagu Kusir Dokar ciptaannya sebagai ‘lagu wajib’ kalangan pecinta music pop di jagat seribu pura ini. Cakra pun mencoba merekam lagu itu di studio milik RRI Stasiun Denpasar. Berkat pemutaran master lagunya itu pendengar lagu daerah Bali RRI Denpasar jadi makin banyak, terutama di kalangan muda-mudi kota dan desa.

                Awal tahun 1963 lagu Kusir Dokar sebenarnya sudah mulai lumrah di telinga masyarakat Bali dan Lombok, terutama berkat kehadiran grup band Putra Dewata yang didirikan Gung Cakra dan rekannya. Grup ini sempat dihadang kendala kesulitan mencari pemain sehingga ia menarik 7 anaknya untuk ikut main dalam band Putra Dewata. Uniknya, Cakra membuat sendiri alat music yang digunakan, antara lain drum dari gulungan tripleks dang piringannya dari seng bekas yang diberi seorang temannya yang kebetulan bekerja di Hotel Bali Beach, Sanur. Ketipung di buat dari bahan kulit kambing yang di beli sendiri di Wangaya, sedangkan stik drum dibuat dari kayu api. Peralatan music yang sangat sederhana ini terus dicoba sampai menemukan aura music yang layak mengiringi lagu.

                Di luar kisah sukses yang manis, Cakra pun sempat meneguk pengalaman pahit di pentas, terutama pada era 1965-an. Saat itu Bali, sebagaimana daerah lain di Tanah Air, memang sedang demam kampanye partai. Tak luput, Cakra sempat jadi korban perhelatan politik yang memang berkecamuk sengit. Ia, misalnya, sering diminta sekelompok orang untuk tampil memeriahkan peresmian partai. Mestinya ia senang karena dapat kesempatan pentas dan imbalan, namun yang diperoleh justru rasa kecewa, bahkan duka, cemas dan celaka.

                Tahun 1976, Cakra di datangi penguasaha rekaman Bali Record, Rikcy. Maksudnya, ingin mengajak Putra Dewata rekaman ke dalam kaset. Tentu saja ia sangat antusias. Sayangnya, hasil rekaman alat-alat music sendiri itu sangat mengecewakan. Saat diputar master kasetnya muncul suara berdesis, bahkan bising, termasuk oleh suara-suara rebut tetangganya yang nyelonong ke dalam pita kaset.

                Perjuangan panjang dan berliku-liku Cakra masuk industry rekaman itu akhirnya membuahkan hasil Rp. 100 ribu. Tapi, bukan honor itu yang membuat dia merasa bahagia dan girang tak alang kepalang. Ia menjadi melonjak girang karena seniman yang dikenalnya beberapa jam itu berjanji meminjamkan alat kepada Cakra. Saking leganya dapat pinjaman alat music modern dan canggih, ia lantas langung membuang alat music buatannya sendiri ke sebuah sungai di Banyuwangi. Ia sama sekali tak berpikir panjang tentang koleksi untuk kepentingan ‘sejarah’ Putra Dewata.

               


•   Alamat   : Ubung Kaja, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, BANJAR ANYAR-ANYAR, DESA UBUNG KAJA, Denpasar Utara

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Denpasar,   11 November 1928

•   Menekuni Sejak   :   01 Januari 1943

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : -

•   Nama Ayah/Ibu   : Anak Agung Ketut Gde Macok • Jero Cutan

•   Nama Anak   : • -  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Utara