desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

I Made Panti Geg • Desa Sanur

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jul 17 2018 :: 11:32:38 AM

Viewed by : 845 people

I Made Panti Geg • Seni Patung


SUATU kali jika kita lewat di Pusat Pendidikan dan Latihan Brigade Mobile (Brimob) ; pasukan elite Polri di Watukosek, Porong, Jawa Barat, selain menyaksikan gedung pusat pendidikan dan latihan yang megah dan terkenal, kita juga akan menyaksikan sosok patung Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan sumpah “Palapa”nya.

 Patung tokoh pemersatu Nusantara ini memang menonjol diantara bangunan – bangunan lain di sekitarnya. Ini bisa dimengerti karena patung itu diletakkan pada pondasi yang tingginya empat meter, ditambah dengan tinggi patung 6 meter dan lebar 4 meter. Selain artistik, sosok patung Gajah Mada ini benar – benar memancarkan spirit dan semangat seorang kesatria Indonesia yang gagah perwira. “Luar biasa!,” puji Presiden Soekarno saat peresmian patung itu tahun 1959 yang lalu.

                Luar biasa memang. Sebuah karya seni dari seorang seniman mendapatkan aplaus dan pujian dari seorang Presiden dan seluruh hadirin di Watukosek. Itu tentu jauh lebih berharga ketimbang penghargaan dalam bentuk materi lainnya. I Made Panti Geg, seniman pematung yang membuat patung kebanggaan warga asrama di Watukosek merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa. Betapa tidak bangga, dihadapan ribuan hadirin terutama Presiden Soekarno I Made Panti Geg, dapat mempersembahkan salah satu karya terbaiknya sebagai seorang seniman, sebagai orang Bali yang terkenal memiliki cita rasa seni yang tinggi dan sebagai anak bangsa yang wajib berbuat yang terbaik buat bangsa dan tanah air.

                Bagi I Made Panti Geg sendiri pembuat patung Gajah Mada di Watukosek itu merupakan sejarah tersendiri dalam perjalanan kesenimanannya. Karena sejak pembangunan patung Gajah Mada itu, namanya dikenal sebagai salah seorang pematung besar dikenal luas, baik nasional maupun internasional. I Made Panti Geg memang lahir dari keturunan keluarga seniman. Kedua orang tuanya adalah seniman dan pembuat (pajeng) payung tradisional pada zaman Kerajaan Badung. Kendati demikian Made Panti Geg, yang lahir awal abad ke -20, yakni sekitar tahun 1905, tidak serta merta mendapatkan dirinya sebagai seorang seniman patung mumpuni. Masa kanak remaja bahkan saat mengawali kehidupan rumah tangga I Made Panti masih melakoni kehidupan seorang petani. Seharian dia berada di sawah bergulat dengan lumpur, menyabit untuk ternak sapi atau sekali – kali memasang bubu lindung untuk sekedar lauk menemani nasi. Itu terus rutin dia lakukan seban hari.

                Kehidupan sebagai seorang seniman dia tapaki setelah mempunyai seorang anak. Itu terjadi ketika suatu hari Panti Geg berkunjung ke Jeroan Grenceng di Banjar Grenceng. Entah untuk keperluan apa. Di sana dia menyaksikan orang – orang belajar mengukir. Mereka belajar dengan tekun. Pelatihnya adalah Anak Agung Made Gede dari Jerowan Grenceng. Melihat kesuntukan orang – orang belajar mengukir itu, perasaan Panti Geg tersentuh. Pulang dari Jeroan Gerenceng dia masih ‘diganggu’ suasana di Jeroan Gerenceng. Mengapa dia tidak belajar mengukir ? Bukankah dia cukup banyak punya waktu untuk itu. Apalagi dirinya keturunan keluarga seniman. Tidakkah dosa kalau tidak ada yang melanjutkan ‘tradisi’ keluarga itu ? Demikian pertanyaan – pertanyaan  yang berkecamuk di benak Panti Geg.

                Setelah merenung, Panti Geg memutuskan belajar mengukir saja. Pertimbangannya tak hanya karena tuntutan melanjutkan tradisi keluarga, tetapi juga karena menyadari dirinya tidak mungkin mengidupi keluarga dari penghasilan sebagai petani. Apalagi dia nanti punya anak – anak sementara lahan sawah warisan tidak seberapa luas. Persoalan – persoalan tersebut mendorong Panti Geg mengambil keputusan ; belajar mengukir di Jeroan Gerenceng.

                Panti Geg tidak salah dengan pilihannya. Bakat, kecerdasan dan ketrampilan menyebabkan Panti Geg merasa pas dengan pilihannya. Itu sebabnya dia cepat menguasai ketrampilan dari gurunya, Anak Agung Made Gede. Tahun 1935 merupakan, tahun yang tak terlupakan bagi Panti Geg. Suatu hari di tahun itu, Anak Agung Made Alit datang dari Klungkung. Diantara oleh – oleh yang dibawanya dari kota ‘seromotan’ itu, adalah sebuah patung budha ‘bonte’. Yakni patung penganut atau pendeta budha yang khas China seperti apa yang banyak bisa dijumpai art shop – art shop sekarang, yakni profil pendeta budha yang gundul, perut buncit, tertawa lepas dengan mata sipit. Waktu itu, patung budha bonte merupakan ‘kreativitas’ baru. Oleh Anak Agung Made Gede, Made Panti Geg ditawarkan meniru. Panti Geg pun mempersiapkan diri. Sepotong kayu bentawas, dia disiapkan untuk meniru sosok budha ‘bonte’ itu. Tiga hari kemudian, tawaran dari gurunya itu, terjawab. Sebuah tiruan patung ‘budha bonte’ dari bentawas dia bawa ke Jeroan Gerenceng. Menyaksikan patung ‘budha bonte’ buatan I Made Panti Geg, Anak Agung Made Gede terkagum -  kagum. Tak menyangka, Made Panti Geg mempu meniru patung budha ‘bonte’ itu nyaris seperti aslinya. Klimaksnya patung budha ‘bonte’ itu terjual seharga 5 ringgit ‘klenting’. Jumlah uang yang terbilang tinggi waktu itu. Secara psikologi, terjualnya patung budha ‘bonte’ dengan harga yang terbilang tinggi kian memantapkan hati Made Panti Geg menekuni total kehidupan sebagai pematung. Dia mulai dikenal tak hanya pandai mengukir, tetapi juga pematung yang piawai. Pesanan berdatangan, terutama dari para pejabat pemerintah penjajahan Belanda. Mulai dari Residen Bali Lombok dan assistennya. Juga dari kalangan orang berduit yang memiliki perjatian pada benda – benda seni. Dari orang – orang ini, Panti Geg mendapat pesanan untuk membuat tokoh – tokoh dunia, seperti Mahamat Gandhi, maupun Rabindranath Tagore.

                Seiring waktu, meamsuki zaman kemerdekaan, kehidupan dan kesenimanannya juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya dia berkarya dalam suasana penjajahan dengan segala konsekwensinya, pada awal – awal zaman kemerdekaan suasana juga berubah . Keahliannya sebagai pematung yang mumpuni mengantarkan Made Panti Geg dekat dan dapat bergaul dengan tokoh – tokoh nasional. Satu diantaranya Bung Karno, presiden pertama RI yang juga dikenal sebagai seniman dan memiliki selera seni yang tinggi. Oleh Bung Karno, I Made Putri Geg dipercaya membuat patung – patung pajangan untuk istana kepresidenan seperti Istana Merdeka, Istana Tampaksiring, Istana Bogor dan Tampaksiring. Dalam proses pembuatannya hampir semua patung itu meniru model orang. Model – model itu oleh Made Panti Geg diambil dari para kenalan atau sanak keluarganya atau tetangganya sendiri. “Pokoknya semua patung yang dibuat almarhum ada modelnya.” Papar I Made Ramya. 70 tahun anak sulung Made Panti Geg.

                Puncaknya ketika dia dipercaya untuk membuat patung Gajah Mada untuk asrama pendidikan dan pelatihan Brimob Watukosek. Patung itu dia kerjakan selama 9 bulan dengan segala kerumitannya. Selama itu pula dia berkutat, mengerahkan segala kemampuannya menyelesaikan patung Gajah Mada di rumahnya di Banjar Panti, Denpasar. Tujuh hari menjelang pemasanganny, I Made Panti Geg jatuh sakit. Ketika patung itu diangkut dengan truk meliter, dia hanya menyaksikan dari balai – balai rumahnya. Namun dia bangga karena karyanya itu akan menjadi monumen bersejarah. Monumen yang momental. Patung itu akan memberi spirit dan semangat bagi para prajurit Brimob untuk berbuat yang terbaik bagi kejayaan bangsa dan negara.

                Patung itu kini tak hanya menjadi kebanggan korps Brimob, tetapi tetap menjadi kenangan keluarga seniman pematungnya I Made Panti Geg. Patung Gajah Mada itu merupakan salah satu dari sekian banyak karya I Made Panti Geg yang menomental. Karena selain membuat patung Gajah Mada, I Made Panti Geg juga membuat puluhan atau bahkan mungkin ratusan karya patung yang menampilkan sosok tokoh atau orang. Misalnya almarhum Jendral Gatot Subroto, Jendral Soekamto mantan Kapolri, termasuk seniman tari I Mario dari Tabanan.

                Saat sudah memasuki usianya yang senja, Made Panti Geg masih tetap kreatif berkarya. Saban hari ada saja orang, terutama wisatawan yang minta dibuatkan patung. Hanya kematian yang menghentikannya berkarya. Pada tanggal 12 Juni 1987, Made Panti Geg menghembuskan nafas terakhir. Dia meninggal dengan banyak sejumlah karya yang diingat orang. Namun sayang dari 9 orang anaknya, hanya satu yang mengikuti jejaknya sebagai pematung yakni I Gede Ramya.


•   Alamat   : Jl. Danau Beratan No.66, Sanur, Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali, BANJAR PANTI, DESA SANUR, Denpasar Selatan

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Denpasar,   17 Juli 1905

•   Menekuni Sejak   :   01 Januari 1935

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : -

•   Nama Ayah/Ibu   : - • -

•   Nama Anak   : • I Gede Ramya  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Selatan