desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

I Made Sarin • Desa Sumerta

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jul 17 2018 :: 11:58:55 AM

Viewed by : 1044 people

I Made Sarin • Seni Tari


Sebenarnya I Made Sarin menguasai berbagai jenis tari. Mulai dari tari Legong Keraton, Baris, Telek, Lasem, hingga tari-tari klasik Bali lainnya dikuasai dengan fasih dan sama bagusnya. Namun satu-satunya tari yang paling digeluti dan diperhatikannya hingga kini usianya mencapai 80 tahun adalah tari Gandrung. Bahkan, dapat dikatakan dari dasar Gandrung inilah Sarin lantas menguasai tari-tari lainnya hingga pentas di hamper seluruh kabupaten di Bali.

                Kenapa, Gandrung?, Karena, kata Sarin,innilah tarian yang diakuinya sebagai warisan leluhur Banjar Katapean Kelod, Desa Sumerta, Denpsar Timur. Karebea itu, jadilah Made Sarin “Mpu Gandrung” yang menyelamtakan warisan keindahan tari Gandrung di Ketapean Kelod. “Kadung sampun demen, sepalan tindih ring Gandrung” katanya. Maksudnya, terlanjur sudah jatuh cinta, ya sekalian tindih (bertaruh lahir batin) pada tari Gandrung.

                Ketetapan hati Sarin memilih tari Gandrung memang tak tergoyahkan. Meskipun banyak tarian lainnya yang lebih populer dan memberikan gebyar materi, namun lelaki yang sejak kecil mengaku tidak pernah mengenal ayahnya ini tetap saja tak bergeming dri pilihannya: ia tetap menukin Gandrung.

                Sarin seniri, sebagaimana senima-seniman tari Bali sezamannya, sudah mulai belajar tari sejak kanak-kanak. Persisnya ia menyebutkan belajar tari sejak gumi (jagat) bali mulai kaca- balau oleh colonial jepang. Dan, saat itu, Sarin mengaku usianya usisanya sudah remaja. Dia pun sangat terbiasa dating ke alun-alun Lapangan Puputan Badung guna menyaksikan balih-balihan (tontonan hiburan) yang digelar pda hari-hari tertentu di sana. “terkadang saya ikut menari ,” kenangnya dengan mata berbinar.

                Kepiawaian Made Sarin menari ini menjadikan dirinya disenangi oleh seorang se iman Belanda –yang kini ia lupa namanya. Diapun mengaku sering diajak jalan-jalan ke sejumlah tempat seantero jagat Baliketika itu. Antara lain utntuk membuat film di Tampak siring, Gianyar. Ada kalanya Sarin sendiri diikutkan sebagai figuran dalam film yang dibuat orang Belanda tersebut.

                Kedekatan hubungannya dengan orang belanda itu berlanjut sejak Sarin muda hingga berkeluarga lalu memiliki anak. Saking senkatnya hubungan Sarin itu dengan seniman Belanda itu, tak urung diapun diperkenalkan dengan sejumlah tentara Belanda termasuk aparat birokrasi Belanda. Akibatnya, Sarin mengaku pernah dipanggil aparat yang orang Bali tulen.

                “Saya dicurigai sebgai antek-antek tentara NICA. Beh, saya marah luar biasa,” kenangnya dengan ekspresi tak bercanda. Ia bahkan tampak amat sangat serius. “Saya dekat dengan orang-orang Belanda karena saya sebagai seorang penari, bukan jadi antek-antek NICA,” sambungnya.

                Ketika itu dia mengaku sadar, kelebihannya dalam menguasai seni tari Gandrung, nyatanya, lebih dimanfaatkan oleh para orang asing, seperti Belanda dan Jepang, dari pada orang-orang Bali sendiri. Padahal, “Titiang tindih ring Gandrung wantah mangdene Gandrung puniki ajeg ring jagat Bali, ring Ketapean,” sebutnya. Dia tindih menggeluti tari Gandrung semata-mata demi kelestarian hidup Gandrung itu senidiri di jagat Bali, khususnya di banajr Ketapean.

                Dari sinilah kemudian dia mulai menularkan keampuannya menari Gandrunh iti kepada lingkungannya di Ketapean Kelod. Lewat Sarin-lahseni Gandrung di Banjar Ketapean Kelod mulai dihidupkan lagi. Yang menarik, kebanyakan dari penekun Gandrung itu kini masih terhitung kerabat dekat Sarin: ys cucu-cucunya, keponakannya. Di banjar ini, Gandrung dijadikan tarian yang pingit, sacral.

                Di panggung pentas, sarin memang tampil mempesona. Ia pun jadi idola seantero Denpasar (atau Badung) ketika itu. Penonton senantiasa menyaksikan Sarin menari sering mengaku tertipu, karena Sarin Nampak begitu cantikdi panggung, padahal sehari-hari dia adalah lelaki tulen.

                Begitulah, Sarin di panggung memang dikenal mataksu . ia sering tampil memerankan sosok penari wanita. Dia tampil dengan payasan (tata rias) wanita. Termasuk juga menari Joged Bumbung –yang umumnya memang ditarikan wanita. Maka, pria-pria yang ikut ngibing sering terkecoh dengannya. Mereka sering menunggu Sarin yang tampak ‘cantik’ saat menari itu hingga berganti busana tari. Namun, “ Betapa  mereka jadi kecewa bagiru mengetahui saya nyatanya lelaki tulen,” Sarin tergelak.

                Di kalangan seniman-seniman tari Bali, Sarin termasuk generasi Ni Cawan, Ni Reneng, dan kawan-kawan. Jarak kampong yang saling berdekatan menjadikan mereka saling latihan menari bersama. Ketika kemuadian Cawan dan Reneng memperdalam memperdalam ilmu di tari Legong Keraton, Sarin melanglang ke jagat Gandrung. Antara lain dia menyebut seniman Nyoman Kaler sebagai gurunya. Pilihan ini diyakini sangat sulit, karena menari Gandrung tak Cuma menuntut busa menggerkakan tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya tapi lebih daripada itu juga harus bias menguasai napaas dengan baik. Lalu, juga harus bisamenguasai gending-gending (nyanyian) Gandrung itu sendiri.

                “”Kalau tak bias menguasai gending-gending dengan baik, beh jangan harap bias ngigel Gandrung dengan baik,” semburnya. Soalnya, “gerak Gandrung sangat rumit, mengikuti alur gending-gendingnya,” tambahnya.

                Ketekunan, keuletan, serta keteguhan niat pula yang menjadikan Sarin dapat menguasai berbagai ‘rahasia’ tari Gandrung yang rumit itu dengan baik. Dia pun dicatat sebagai salah satu ‘pustaka hidup’ alias guru tari Gandrung bagi para mahasiswa Sekoalh Tinggi Seni Indonesia (STSI)Denpasar. “Walaupun di sana sudah ada Pak Bandem (maksudnya Prof. Dr Made Bandem, mantan Ketua STSI), tapi mahasiswa-mahasiswa itu tetap saja belajar Gndrung kepada saya,” katanya, tersenyum.

                Kondisi hidupnya yang berkekurangan secara ekonomi menjadikan dia menjalani pilihan hidupnya dengan sangat ulett sekaligus tak pelit pada ilmu yang dimilikinya. Kenyataan hidupnya yang terlahir sebagai anak yatim sejak bayi menjadikan dia teguh dan kukuh pada pendirian.

                Sarin mengaku tidak pernah mengenal ayahnya, hingga kini. Sejak dia masih dalam kandungan sang ibu, sang ayah –kata dia—sudah menceraikan snag ibu. Dan sang ibu menerima putusan itu dengan pasrah,sehingga ketika lahir Sarin tak didampingi sang ayah. Ketika dia tumbuh menjadi remaja lalu dewasa, dia mengaku berusaha mengenal ayahnya, namun tak pernah kesampaian. Jawaban pasti tak pernah didapatnya. “Saya pasrah saja, biarlah saya lahir tanpa ayah,” keluhnya.

                 Perjalanan hidup Sarin selanjutanya berjalan ‘normal’. Dia menikah dengan Ni Made Gubreg, dikaruniai tiga anak. Yang laki-laki bernama I Wayan renda, sednagkan yang perempuan masing-masing bernama Ni Made Merti dan Ni Made Nardi. “Jelek-jelek gini potret saya juga banyak dibawa ke luar negeri,” sebut penerima penghargaan seniman tua dari pemda Bali pada Pesta Kesenian Bai tahun 1996 ini.


•   Alamat   : Jl. Katrangan No.21, Sumerta, Kec. Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali, BANJAR KETAPIAN KELOD, DESA SUMERTA, Denpasar Timur

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Denpasar,   17 Juli 1918

•   Menekuni Sejak   :   17 Juli 2018

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : Ni Made Gubreg

•   Nama Ayah/Ibu   : - • -

•   Nama Anak   : • I Wayan Renda  • Ni Made Merti  • Ni Made Nardi  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Timur