desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

I Made Monog • Desa Sanur Kauh

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jul 17 2018 :: 12:25:21 PM

Viewed by : 668 people

I Made Monog • Seni Tari


Sebutlah seniman Bali yang dikenal memiliki ketabhan sekaligus keberanian, maka nama I Made Monog akan masuk salah satu diantaranya. Di tengah kekejaman aksi colonial Belanda maupun Jepang laki-laki asal Banjar Kedaton, Denpasar, ini tetap mampu meloloskan dirinya sebagai seniman. Tidak tanggung-tanggung berkat keuletannya, selain menguasai tari baris dan arja Monog juga diakui sebagai seniman Calonarang yang berani.

                Ketika pemerintahan colonial bercokol di tanah Bali bisa dibanyangkan kehidupan dihadang berbagai kesulitan, bahkan ketakutan. Karenanya, untuk merabut ‘jatah’ sebagai penari seseorang harus beradu kiat dan siasat agar mampu lolos dari batasan-batasan yang dibikin pemerintah colonial. Namun, Monog kecil (berusia 10 tahun) tidak peduli dengan penderitaan kala itu. Ia tetap bersikukuh dengan tekadnya, memuaskan kehidupan dengan melakoni seni.

                Maka, Ia pun mulai belajar menari baris pada Guru Sriada di Banjar Gemeh, Denpasar. Tak puas belajar dari satu guru, ia pun belajar pada Pekak Kredek (ayah mantan Ketua STSI Denpasar, Prof Dr I Made Bandem) dan Made Kengguh asal Singapadu, Gianyar. Sebelum menempa diri pada empu seni tari yang dikenal polos dan tidak pelit berbagi ilmu ini, Monog telah melapisi dirinya dengan penguasaan tari kecak saat ia bergabung dengan Sekaa Janger  Banjar Kedaton.

                Menjadi pragina baginya tiada lain sebagai panggilan nurani yang dilandasi konsep ngayah (pengabdian). Memang, sebagai manusia biasa Monog tidak munafik dengan pahala kesenimanannya yang berupa materi. Jika laris atau sering dicari orang untuk keperluan pementasan, kata dia, sudah tentu akan banyak mndatangkan sekaya (penghasilan) untuk keperluan sandang dan pangan.

                Visi seniman sebagai utamaning lungguh menjadikan Monog tak cepat puas lantas mandeg setelah menguasai satu jenis tari. Ia terus belajar dan belajar. Setelah belajar baris dan penasar, ia pun menekuni pementasan Calonarang yang tergolong sacral dan angker. Ini sebuah pilihan yang terbilang langka, karena seorang penari Calonarang tak cukup Cuma mengandalkan kepiawaian menai secara fisikal, tapi juga ketangguhan batin. Dalam bahasa sehar-hari di Bali, seorang penari Calonarang harus mampu lolos dari kepintonan, cobaan gaib. Lebih-lebih bila penari Calonarang tadi memilih peran sebagai pengrancab (patik sakti yang membunuh raja ilmu hitam) ataupun Rangda (raja ilmu hitam), sebagaimana sering dilakoni Monog.

                Kearifan hidup demikian pula ditularkannya kepada puluhan muridnya yang tersebar mulai dari Banjar Kedaton, Tanjungbungkak, hingga Tanjung Benoa, termasuk di beberapa daerah lain di Bali. Dan, kini, di tengah-tengah kondisi fisiknya yang terus melemah, Monog hanya bisa berpesan kepada generasi penerus penekun kesenian Bali agar tetap berkesenian dengan dasar bakti.


•   Alamat   : -, BANJAR ABIAN TIMBUL, DESA SANUR KAUH, Denpasar Selatan

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Banjar Kedaton ,   17 Juli 1920

•   Menekuni Sejak   :   17 Juli 2018

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : Ni Nyoman Sadri

•   Nama Ayah/Ibu   : I Made Tambun • Ni Luh Jembung

•   Nama Anak   : • -  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Selatan