desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

Ida Bagus Gede Ngurah Rai • Desa Kesiman Petilan

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jul 17 2018 :: 01:28:24 PM

Viewed by : 219 people

Ida Bagus Gede Ngurah Rai • Seni Pewayangan


Nama Ida Bagus Ngurah (demikian ia akrab disapa) tidak asing lagi dalam khazanah dunia seni pedalangan di Bali. Berkat penjelajahannya ke penjuru Bali memainkan wayang kulit, banyak kalangan mengakuinya sebagai salah seorang dalang populer di Bali. Selain sebagai dalang wayang, laki – laki kelahiran Kesiman, tahun 1926, ini juga sebagai guru seni perdalangan di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) dan dosen luar biasa di Insititut Hindu Dharma (IHD) Denpasar sekaligus rohaniwan Hindu.

Sebagai seorang anak keturunan (wangsa) brahmana, Ida Bagus Ngurah Rai sangat taat dengan kaidah Geria Bajing, tempat kelahirannya. Sejak kecil ia suka mendengar cerita pewayangan dari ayahnya, Ida Bagus Putu Mergeg. Bagus Ngurah kecil sangat senang ketika ayahnya bercerita tentang kehebatan Hanoman melawan raksasa Korawa yang menjadi musuh Pandawa. Tak terkecuali ketika Hanoman yang dilukiskan berwujud kera putih itumenjadi pioner penggempuran terhadap Kerajaan Alengka yang diperintah Rahwanan –dan kemudian berbuah kemenangan bagi Rama. Setiap epos cerit pewayangan baik Mahabrata maupun Ramayana memang sangat disukainya. Ia pun diajarkan membaca lontar milik leluhurnya.

      Bermula dari kegemaran mendengar dan kemudian membaca cerita pewayangan itulah Ida Bagus Ngurah bersama adik-adiknya di Geria Bajing lantas sering memainkan wayang yang dibuatnya sendiri dari upih (serat pelepah) kepala maupun pinang. Wayang upih itu sering dimainkannya siang maupun malam hari dengan memanfaatkan tembok rumah sebagai kelirnya. Dan, permainan ngewayang upih ini sering dilakukan hingga ia tamat SR (Sekolah Rakyat) di Denpasar. Maklum, anak – anak zaman itu memang belum mengenal hiburan modern sejenis video game, teve, dan sejenisnya.

            Tamat SR, Ida Bagus Ngurah kemudian bekerja sebagai pegawai dan perawat di RSU (Rumah Sakit Umum) Wangaya. Ketika remaja ia takut berjuang mengusir penjajah Belanda maupun Jepang. Bahkan, ia sempat ditangkap dan ditahan tentara NCA di Tangsi Pekambingan. Toh, semua itu tak menyurutkan kesuntukannya belajar pedalangan wayang kulit. Biasanya, sepulang dari rumah sakit ia hampir tak pernah istirahat siang. Jika tidak ada orang yang memninta bantuannya berkaitan dengan upacara keagamaan ataupun adat, ia pun beranjak ke sebuah balai di lingkungan geria-nya. Bukan untuk tidur-tiduran atau bermalas-malasan, melainkan memainkan wayang dari-wayang yang ia koleksi dari semjumlah dalang. Saat itu ia memang tidak lagi memainkan wayang piph , melainkan wayang kulit.

            Ia pun mencoba mulai mengenal dunia pewayangan dengan pikiran lebih dewasa sembari terus suntuk mendengar kisah – kisah dunia pewayangan dari para penglingsir atau seniornya. Tak jarang ia sengaja minta orang lain agar bercerita tentang kisah – kisah jagat pewayangan. Dari ‘tradisi’ lisan inilah Ida Bagus Ngurah makin jatuh cinta bahkan semakin mantap dengan pilihannya untuk menekuni dunia pewayangan. Naskah – naskah lontar peninggalan leluhurnya pun dilalap, lebih – lebih lagi yang berkaitan dengan jagat wayang. Astada Parwa (18 bagian cerita Mahabrata) termasuk salah satu yang sangat menarik perhatiannya. Menurutnya, Astadasa Parwa wajib dikenal masyarakat, lebih – lebih lagi umat Hindu, termasuk yang menjadi pejabat sekalipun. Baginya, Astadasa Purwa ini sarat muatan filsafat hidup.

            Selain itu, ia juga makin rajin berdiskusi dengan dalang – dalang wayang yang ada di seputar Badung -ketika itu. Tujuannya, tiada lain adalah menggali ilmu seni pedalangan sekaligus mengoleksi wayang yang layak dimainkan. Perburuannya yang sungguh-sunguh dan tekun itu ternyata membuahkan hasil. Dalam tempo tiga bulan saja Ida Bagus Ngurah punya sekeropak wayang yang layak dipentaskan. Ia pun sudah bisa memainkannya sendiri.

            Ida Bagus Ngurah merasakan proses pembelajaran seni pedalangannya cukup lancar. Kelacaran itu tiada lain karena ia sangat didukung kalangan geria termasuk istrinya, Ida Ayu Agung, dan anak-anaknya. Sedangkan di sisi lain ia sendiri mengaku masih bisa menghidupi keluarganya dari gajinya sebagai pegawai RSU Wangaya.

            Mendalang baginya justru memberi peluang mengabdikan diri dalam peran ganda, sebagai brahmana sekaligus guru loka. Sebagai brahmana (pendeta atau keturunan pendeta) ia merasa wajib bisa menghidupi bisa muput karya, setidaknya memberi petunjuk atau sekaligus membantu menuntaskan suatu upacara, seperti potong gigi para sisya (umat) maupun braya (keluarga). Lewat ketrampilan sebagai dalang pula ia bisa menjadi guru loka, yakni memberikan bimbingan atau penyuluhan kepada masyarakat luas. “Prinsipnya, dengan pedalangan ini saya bisa agawe sukaning wong len, membahagiakan orang lain,” kata dalang yang demen memasukkan humor – humor segar dan aktual dalam pertunjukan wayangnya ini.

            Begitulah, berkat penguasaannya pada seni pedalangan, ia bisa ngayah (berbakti) lebih leluasa kepada masyarakat. Sebelumnya, ia lebih terlihat ngayah lewat sekaa (kelompok) kekawin/kidung dan menyelesaikan pekerjaan ngayah yang secara fungsional tidak mungkin dikerjakan pengayah non-brahmana. “Penekunan seni perdalangan ini bukan hanya keinginan sya sendiri, tapi juga karena permintaan braya dan sisya geria. Lantas, apakah mungkin saya tolak permintaan mereka itu?” katanya pada suatu kesempatan.

            Pilihan hidupnya sebagai dalang yang berwawasan luas dan mendalam terhadap filosofi hidup inilah yang menjadikan dia sering dimintai nasihat baik oleh braya dan sisya-nya di luar geria maupun oleh kerabat batihnya di Geria Bajing. Meski demikian, Ida Bagus Ngurah -yang belakangan akrab disapa Ida Pedanda Bajing alias Ida Bagus Jayaprana, gara-gara memerankan tokoh Jayaprana dalam film- ini tetap dikenal sebagai sosok pria yang tegas baik dalam tutur kata maupun sikap. Ia juga dikenal sanagt efisien waktu. “Saya paling tidak suka mengulur – ulur waktu pementasan wayang,” urai sosok yang juga dikenal dengan Pedanda Bajing karena dia pendeta (pedanda) dari Geria Bajing.

            Ida Bagus Ngurah tidak hanya ngewayang di wantilan pura dan pamerajan, melainkan juga di wantilan puri-puri di Bali. Antara lain, dia tampil di Puri Denpasar, Puri Satria, Puri Kesiman, Puri Klungkung, Puri Karangasem, dan puri-puri lainnya. Ia bahkan juga pernah pentas dalam Festival Wayang di Jakarta, Solo, dan Yogyakarta. Ia sendiri merasakan sering larut dalam pertunjukan – pertunjukan wayangnya. “Saya sering belakangan baru sadar, kok saya hanyut dalam cerita. Mungkin karena saya seorang anak geria, saya sering menganggap diri saya tangkil dengan Bhagawan Drona. Padahal dalam wayang, yang tangkil itu adalah Arjuna,” kenangnya.

            Dan, tak Cuma tempat ngewayang-nya yang majemuk. Dunia yang ditekuninya pun beragam. Ida Bagus Ngurah ini juga sangat suka pada seni teater. Seni ini dipelajarinya tanpa guru, kecuali lewat melihat banyak pertunjukan teater tradisional Bali, seperti arja, topeng, dan sejenisnya. Lewat dunia teater ini ia kemudian merambah sejumlah pentas teater termasuk TVRI Stasiun Denpasar. Ia biasanya pentas drama bersama dramawan Bali IB Anom Ranuara dan I Gusti Ngurah Putra. Suatu ketika, ia dipercaya membintangi garapan film bertema cerita rakyat dari Bali Utara, Jayaprana. Karena ia pelaku utama dalam cerita itu, sebagai Jayaprana, maka ia akhirnya sering diberikan sebutan baru: Ida Bagus Jayaprana.

            Abstraksi kepuasaan Ida Bagus Ngurah sebagai dalang bukanlah pada upah yang diterima melainkan justru pada ekspresi kepuasan para penontonnya. Itu sebabnya, selama hidupnya ia tidak berkeinginan pentas wayangnya di-upah atau dibayar. Baginya ngewayang adalah ngayah. Dan, ‘upah’ baginya cukup hanya berupa sesari di banten pawayangan yang besarnya sama sekali tak pernah dipatok. “Sesari mengandung makna kesempurnaan isi dunia yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi, kendati pun jumlahnya hanya aketip atau sekepeng. Karena itu, sanagat tidak berkaidah jika ada pregina (seniman) menuntut sesari dengan jumlah besar untuk melengkapi banten pementasasannya, sebab sesari merupakan wujud kesempurnaan persembahan kepada Hyang Widhi yang sekaligus dikembalikan kepada ciptaan-Nya,” ia bertutur.

            Begitulah Ida Bagus Ngurah, sosok seorang brahmana, pendeta, sekaligus pragina, dalang, yang selalu mengedepankan kaidah hidup. Ia pun tak pernah lupa berpesan agar manusia Bali sebagai manusia Hindu tetap menjaga kelanggengan seni budaya Bali. “Seni budaya Bali merupakan refleksi pelaksanaan agama, upacara, dan adat-istiadat. Tak ada Bali tanpa ada agama, budaya, dan adatnya,” tuturnya dalam suatu forum keluarga menjelang detik-detik kematiannya, pertengahan 1998 lalu.

 

 


•   Alamat   : -, BANJAR KEDATON, DESA KESIMAN PETILAN, Denpasar Timur

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Denpasar,   01 Januari 1926

•   Menekuni Sejak   :   01 Januari 1934

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : Ida Ayu Agung

•   Nama Ayah/Ibu   : Ida Bagus Putu Mergeg • Ida Ayu Made Oka

•   Nama Anak   : • I. B. Gde Astika  • I. B. Alit Pidada  • I. A. Mayun Purnamaningsih  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Timur