desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

Ida Pedanda Made Sidemen • Desa Sanur

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Jul 17 2018 :: 02:53:41 PM

Viewed by : 8538 people

Ida Pedanda Made Sidemen • Seni Kesusastraan


Ida Pedanda Made Sidemen adalah seorang kawi wiku, pengarang yang juga sekaligus pendeta besar bali pada abad ke-20. Karya-karyanya menjadi perhatian luas kalangan kalangan penekun sastra Kawi. Dilahirkan dari keluarga brahmana pada hari Selasa Wage, Uku Dungulan, Saka 1800 (1878 M) di Geria Taman Sari, Sanur.

Semasih welaka (belum menjadi pendeta) tokoh yang akrab disapa Pedanda Made ini bernama Ida Ketut Aseman.  Ia menyunting Ida Ayu Rai dari Geria Sindu, Sanur. Namun perkawinan ini tidak diteruskan, karena sang istri tidak mau melanjutkan untuk mediksa (proses inisiasi menjadi pendeta Hindu di Bali). Akhirnya, Pedanda Made berkeputusan untuk cerai. Dari perkainan ini lahir seorang putri bernama Ida Ayu Pidin.

Selang beberapa lama, Ida Ketut Aseman menyunting isttri kedua, yang setelah mediksa bernama Ida Pedanda Istri Made, dari Geria Puseh, Sanur. Dari perkawinan kedua ini lahir seorang putri bernama Ida Ayu Siti –setelah kawin dengan golongan para gusti, ia lebih dikenal dengan Oka Siti.

Merasa diri orang yang hanya menambah  padatnya penduduk (pangresek jagat), tidak berguna, malas, dan miskin, yang hanya bisa ngomong, bagai burung yang juga suka melayang-layang, maka saat berumur 27 tahun ia pergi meninggalkan orangtua (meninggalkan yayah bibi). Uniknya, ini dilakukanya sambil melarikan seorang gadis (lumayati wong kaniaka) dan pergi menyusuri desa-desa. Kegelapan seakan menyelimutinya, akhirnya ia menetapkan pikiran, pergi berguru, lalu menghadap sang nabe di Geria Mandara, Sideman, karangasem.

Maka bersama sang istri yang setia, Ida Pedanda Made Sideman menentukan sikap untuk melakukan pengembaraan ke ‘peradaban batin’. Pulihannya itu dinyatakan kepada istrinya, “… idep beline mangkin makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang anak tandurin, guna dusune kanggo ring desa-desa”. Begitulah beliau memilih jalan hidup sebagai ‘mayasa lacur’ (bertapa miskin) dengan dasar ‘guna lacur’ (ketermpilan sebgai orang dusun). Karena tidak mempunyai sawah, maka Ida Pedanda Made akan menanam sesuatu dalam dirinya sendiri.

Nyatanya, penghayatan pada ‘guna dusun’ itu mengantarkan Ida Ketut Aseman tak hanya sebagai seorang pendeta, namun beliau sekaligus juga adalah seorang petani, seorang undagi yang paham filosofi arsitektur, fasil dalam hal ilmu mengukur tanah, membuat arca, tapel, prelingga, kul-kul (kentongan), pemulas warna, ngatep barong, sekaligus seorang pujangga.

Alam catatan otobiografinya, sebagaimana tertera dalam karyanya yang berjudul Geguritan Salampah Laku,disebutkan bahwa Pedanda Sideman pertama kali belajar sastra dari Ida Bagus jelantik di Somawati. Tulisannya: Sun anut solahin guru/sang wonten ring Somawati/juru kawi Bali kruna/pretama guru mengaji/maguru lagu lan tembaga/nama Ida Bagus Jelantik.

Nanum bersama-sama dengan I Gusti Ngurah Made Agung (lebih dikenal dengan nama Cokorde Mantuk Dirana) yang juga teman akrabnya, ida Ketut Aseman juga berguru, belajar satra kepada seorang pendeta dari geria Sindu, Sanur. Sudah tentu pembelajarannya di Sideman, Karangasem, bertahun-tahun adalah bagian dari proses besar itu. Tidak hanya di sideman, Ida Ketut Aseman juga sempat belajar ke Klungkung, Bangli, dan di pasraman lainnya. Adapun ketrampilan membuat tapel beliau pelajari dari seorang guru di Grenceng, Denpasar.

Dikatakan pula, ketika memasuki usia setengah baya, (tengah tuwuh) beliau baru berguru dua kali. Dan, beliau berkeinginan kembali ke Mandagiri (maksudnya Geria Mandara, Sideman) guna menemui gurunya, seorang pandita nabe ( pendeta guru) untuk ketiga kalinya. Tulisnya: Ngungsi Mandara Giri/puput maguru ping telu/malih amari wara/ngusap suku sang resi/gawe ayu dadi jejek sang pandita//.

Demikian, berangkat dipagi hari bersam istrinya yang setia, menyusuri pantai timur Pulau Bali. Setibanya di Mandara, sang pandita guru menerimanya sebgai siswa paling bungsu, dan Ida Ketut Aseman pun amari aran ( berganti nama) menjadi Ida Pedanda Made Sideman.

Mengenai bakat beliau, Ida Pedanda sendiri pernah menyatakan, bahwa bakat sastra diterimanya dari sang ayah. Sementara bakat arsitektur diterimanya dari garis ibu. Maka, jadilah Ida Pedanda Sideman seorang yang mengabdi lewat kerja, melaksanakan konsep kreativitas religus yang disebuat sebagai Bhasma-sesa dan Gandha-sesa. Bhasma-sesa adalah jalan sastra mengikuti jejak Bhagawan Byasa, sedangkan gandha-sesa merupakan kreativitas kearsitekturan mengikuti jejak Bhagawan Wiswakarma.

Konsep demikian kemudian melahirkan sejumlah peninggalan kreativitas, di antaranya: Ida pedanda menulis 30 gantus rontal embat-embatan, 37 rontal kropak, 154 rontal cakepan, sejumlah tapel, sejumlah patung, sejumlah wantilan, sejumlah bade, 77 kulkul, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sebagai seorang pengarang, Ida Pedanda made Sideman mewariskan sejumlah karya, antara lain: Kekawin Candra Bhairawa, kakawin Cayadijaya, Kidung Rangsang, Geguritan Salampah laku, Kakawin Patitip, Kakawin Panglepasan, Siwagama atau Purwagamasana (dalam bentuk prosa), dan lain-lainnya.

Pengarang yang sering memakai nama samara Tanarsa, Tantusta, atau Tanmaha ini akhirnya meninggal tanggal 10 September 1984, dalam usia 126 tahu. Dan pada hari selasa pagi, 20 Agustus 1980, menteri P dan K Danoed Joesoef menyematkan tanda penghargaan padanya atas jasanya di bidang pembinaan sastra daerah.


•   Alamat   : -, BANJAR TAMAN SARI SANUR, DESA SANUR, Denpasar Selatan

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Denpasar,   17 Juli 1878

•   Menekuni Sejak   :   01 Januari 1905

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : Ida Ayu Rai, Pedanda Istri Made

•   Nama Ayah/Ibu   : - • -

•   Nama Anak   : • -  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Selatan