desa

banjar

pura

puri

subak

kesenian

situs budaya

lokasi wisata

sulinggih

lpd

pasar

tokoh seni tari

tokoh seni musik/tabuh

tokoh seni karawitan

dalang

tokoh sastra

tokoh seni drama

tokoh seni patung

tokoh seni ukir

tokoh seni lukis

pemangku

tukang banten

sekaa tabuh

sanggar tari

sanggar karawitan

sanggar pesantian

sanggar arja

sanggar wayang

sanggar dolanan

sanggar lukis

Tokoh Seni dan Budaya di Kota Denpasar

I Ketut Rudin • Desa Sanur Kauh

Author : Dinas Kebudayaan Kota Denpasar

Post on : Oct 30 2019 :: 08:19:29 AM

Viewed by : 486 people

I Ketut Rudin • Seni Lukis


I Ketut Rudin lahir tahu 1920, di Renon, Denpasar Selatan. Sampai tahun 1998, ketika usianya sudah mencapai 78 tahun, pelukis ini masih berkarya. Tak banyak pelukis Bali kelahiran 1920-an yang masih bertahan dan berkarya sampai sekarang.

            Dalam usia tuanya, Rudin yang menekuni yoga Sapta Dharma itu tetap melukis, meladeni pesanan-pesanan penggemarnya. Bagi warga Denpasar, Rudin mungkin kurang begitu populer. Namun, nama Rudin sudah melanglang buana lewat sarjana luar negeri, seperti Wim Bakker (Belanda), Dr. Heddy Hinzler (Belanda), dan Prof Adrian Vickers (Wollonggong, Australia). Mereka tak hanya mengenal tetapi sudah mewawancarai Rudin untuk berbagai publikasi.

            Kekhasan Rudin sebagai pelukis terletak pada objeknya yang hampir selalu tetap, yakni legong dan tari baris. Coraknya hitam putih, latar belakang dibiarkan kosong alias putih. Dalam menggambar, Rudin selalu menggunakan kertas (bukan kain kanvas). Rudin hampir tak pernah tertarik menggambar suasana upacara (ritual) di Bali, tidak tertarik menggambar pemandangan, atau wayang seperti pelukis lainnya.

            Sebetulnya, pada mulanya, Rudin mulai menekuni dunia seni lukis dengan menggambar wayang tetapi tidak dilanjutkan sehingga bukan itu ciri khasnya sekarang. Yang dipertahankan adalah objek legong dan tarian serta corak hitam-putih dengan latar belakang kosong sampai sekarang. Alasannya praktis saja, yaitu model lukisan itulah yang laku dijual, bisa mendatangkan kesenangan dan uang. Hal itu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi berdasarkan pilihan Rudin atas pengaruh sponsornya.

            Berikut cerita Rudin sampai menjadi pelukis mulai 1930-an hingga keputusannya memilih objek dan corak seperti adanya kini. Setelah tamat Vervlog School di Kayumas, Rudin melamar berbagai pekejaan, tapi tak satu pun lamarannya tembus. “Saya melamar jadi polisi, guru. Semuanya gagal,” ujar Rudin atas pengaruh sponsornya.

            Ketika muda, Rudin sering jalan-jalan ke Museum Bali. Di sana dia brtemu sahabatnya yang bernama I Gusti Ketut Budha. Di Museum Bali, Rudin bisa leluasa melihat lukisan. Di sana dia melihat karya Lempad, lukisan seniman keturunan Cina, Yap Sin Tin (guru pelukis I Gusti Made Deblog). Dari sinilahhati Rudin tergugah melukis.

            Tahun 1935-an dan seterusnya itu, Rudin banyak melukis objek wayang, fragmen – fragmen Mahabrata. Seperti juga anak-anak Bali waktu itu, jagat wayang juga banyak menguasai imajinasi Rudin. Lukisan Rudin dengan objek wayang itu dijual kepada orang-orang Belanda yang tinggal di Bali waktu itu dan juga beberaoa wisatawan yang datang menonton pertunjukan kesenian di Tanjung Bungkak dan Sanur. Seperti juga pelukis Bali lainnya waktu itu ( I Gusti Made Deblog, misalnya), Rudin pun melukis untuk mencari nafkah.

            Beberapa karya Rudin memang laku terjual, beberapa lainnya tidak laku. Tuan Neuhaus alias Tuan Be (sebutan untuknya karena dia mempunyai akuarium besar, tempat ikan-ikan dipelihara) yang tinggal di Sanur kurang tertarik dan menolak lukisan Rudin berobjek wayang.  “Setiap saya datang, dia menolak lukisan saya. Saya disuruh menjual ke Denpasar,” kenang Rudin. Untuk mendapatkan uang, Rudin merayu istri Tuan Be, maka lukisannya laku. Rudin terus melukis, menggambar objek wayang.

            Sejak Perang Dunia II keadaan tidak menentu. Wisatawan tidak datang. Rutin tidak aktif melukis. Saat Jepang datang, keadaan bertambah kacau. Usaha menjual lukisan sia-sia. “Seteah merdeka, barulah saya mulai melukis lagi,” ujar Rudin.

            Tahun 1947 dia bertemu dengan orang Belanda bernama Koopman, pengusaha art shop di Pantai Sindhu Sanur. Koopman bukan pelukis, tetapi seorang arsitek yang sangat gemar dan mengerti akan lukisan yang baik dan laku dijual. Koopman inilah yang membina Rudin, membeli dan menjualkan lukisannya, sekaligus memberikan arahan dan pesan-pesan tentang lukisan macam apa yang diminati wisatawan. Koopman-lah yang menunjukkan karya-karya pelukis Meksiko, Miguel Covarrubias (penulis buku klasik Island of Bali) dan minta agar Rudin menggambar seperti karya Covarrubias. “Lukisan wayang saya ditolak terus. Akhirnya saya menggambar legong, meniru lukisan Covarrubias, sesuai saran Koopman,” tutur Rudin.

            Apa pun yang diminta Koopman, dipenuhi Rudin. Sebagai pelukis, Rudin senang berkarya untuk memenuhi pemesan. Koopman minta bahwa sebelum lukisan rampung, Rudin harus menunjukkan kepada Koopman, mana-mana yang bisa diteruskan, mana-mana yang harus diperbaiki. Proses ini berlangsung cepat dan akhirnya Koopman puas.

            Maka sampai sekarang, Rudin terus menggambar legong dan baris, walaupun tidak seratus persen sama dengan hasil karya atau corak Covarrubias, jejak langkah Covarrubias kuat terkesan dalam karya-karyanya. Rudin sendiri puas dengan karya seperti itu, antara lain karena itulah yang laku, digemari -menurut kata Rudin- oleh pembelinya.

            Kemesraan dengan Koopman tidak berlangsung lama, karena tahun 1948 Koopman mati tertembak di rumahnya, di Sanur. Setelah itu, Rudin mendapat patron baru, yakni John Coast, warga Inggris yang tinggal di Kaliungu, Denpasar. Kabarnya, John Coast memiliki hubungan baik depan Presiden Soekarno ketika itu. Coast sering membawa turis ke Renon, ke kediaman Rudin, dan membeli lukisan Rudin. “Rumah saya seperti menjadi art shop waktu itu,” kata Rudin.

            John memang bisa disebut sebagai salah seorang promotor seni budaya Bali. Dia pernah membawa grup kesenian Peliatan ke luar negeri. Dia juga senang menulis. Pergaulannya dan pengalamannya di Bali dituangkan dalam buku berjudul Dancing Out of Bali (1953). Tulisannya di berbagai jurnal kebudayan juga muncul mempromosikan Bali sebagai daerah yang memiliki seni budaya yang mengagumkan.

            Dalam rangka lawatan ke Eropa dan Amerika tahun 1950-an, John minta beberapa lukisan Rudin tanpa dibayar lebih dulu. Karena akrab dan percaya, Rudin memberikan John Coast sebanyak 20 lukisan untuk dibawa ke luar negeri. Waktu itu lukisan Rudin tidak berisi nama, atas anjuran John Coast-lah Rudin mulai mencantumkan nama dalam karyanya.

            Lama John tak datang dari lawatannya ke Eropa, lama dia tidak nongol di Bali, sampai – sampai Rudin sempat gelisah, mempertanyakan bagaimana nasib lukisannya yang dibawa ke luar negeri. Dalam gelisahnya itu, Rudin pun mengucapkan kaul agar uang hasil penjualan lukisannya datang. Ternyata datang.

            Kini karya – karya Rudin sudah menyebar ke berbagai peminatnya di banyak negeri. Nama Rudin agaknya sudah cukup terpateri. Hal ini bisa dilihat dari munculnya beberapa kali sarjana atau calon sarjana asing, seperti dari Belanda, untuk mewawancari Rudin sebagai bahan studi. Dalam sejarah seni lukis Bali, nama Rudin memang tidak muncul, kalaupan muncul namanya belum tercetak tebal. Nama-nama pelukis Ubud, Batuan, dan Kamasan saja yang banyak muncul, seolah – olah Renon tidak mempunyai seniman yang membanggakan. Mungkin nanti, khususnya setelah beberapa sarjana asing mulai memburu Rudin, sebagai salah satu pelukis angkatan 1920-an yang masih aktif berkarya sampai sekarang, barulah nama Rudin bakal dicetak tebal, diakui. Tapi, haruskah pengukuhan keseniman seorang pelukis Bali menunggu pengakuan orang asing?

            Nyatanya, karya-karya Rudin laku terus. Peminat khusus selalu datang untuk memboyong karya-karyanya, sampai sekarang. Sayang, tak satu pun karya Rudin tersisa di rumahnya. Semuanya laku terjual, sesuai dengan tujuan Rudin melukis. Kolektor Suteja Neka pun ikut membeli beberapa karya Rudin. Mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra (almarhum), juga terkesima melihat lukisan Rudin. “Dia lihat lukisan saya dan disarankan untuk tetap bertahan seperti itu.” Kenang Rudin.

            Hendra Adiprana, arsitek Intercontinental Hotel, Jimbaran, banyak mengoleksi karya Rudin. Sayangnya, Rudin sendiri tidak mempunyai koleksi satu pun atas karyanya. Rudin tidak pernah menciptakan karya “besar, master” untuk dirinya. Semuanya dibuat untuk memenuhi pesanan. Kalau sesekali ada pesanan datang untuk Rudin menggambar wayang, atau episode Mahabhrata seperti yang pernah dibuat tahun 1930-an ketika dia mulai melukis dan belum diarahkan Koopman melukis legong, Rudin pun siap.

            Kehebatan Rudin adalah dia teguh melukis legong dan baris, dengan corak hitam putih. Legong dan baris yang digambar seperti hidup, dengan mata mendelik dan agem tubuh yang lemuh (lemas, pas). Belakangan corak itu dipermanis dengan memasang warna prada dan memasang lipstik merah di bibir penari sehingga karyanya benar-benar khas Bali. Corak lukis hitam yaitu I Wayan Dura, yang terjun ke dunia seni lukis. Sampai tulisan ini disusun, Rudin belum pernah mendapat penghargaan di bidang kesenian. Mudah-mudahan nanti.


•   Alamat   : Renon, BANJAR ABIAN TIMBUL, DESA SANUR KAUH, Denpasar Selatan

•   No Telp.   : 0

•   Tempat/Tgl Lahir   : Denpasar,   17 Juli 1920

•   Menekuni Sejak   :   17 Juli 1930

Detail Lainnya


•   Nama Suami/Istri   : -

•   Nama Ayah/Ibu   : - • -

•   Nama Anak   : • -  

Hasil Karya


Penghargaan


Sumber Informasi : -

Tokoh Seni dan Budaya Lainnya di kec. Denpasar Selatan